Pengingkaran Salaf terhadap Orang yang Mengeluarkan Amal dari Iman

mengeluarkan amal dari iman

Pengertian iman menurut ahlus sunnah

Secara bahasa, iman bermakna “at-tashdiq” (membenarkan). Makna iman secara bahasa ini sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang saudara-saudara Yusuf,

قَالُواْ يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِندَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنتَ بِمُؤْمِنٍ لِّنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.’” (QS. Yusuf: 17)

Adapun dalam istilah syariat, terdapat dua kondisi penggunaan istilah “iman”.

Kondisi pertama

Ketika “iman” disebutkan secara terpisah, tidak digandengkan dengan penyebutan “Islam”. Maka, yang dimaksud dengan “iman” dalam kondisi yang pertama ini adalah agama Islam secara keseluruhan. Allah Ta’ala berfirman,

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ

Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (QS. Al-Baqarah: 257)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَاللّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 68)

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُؤْمِنَةٌ

Tidak masuk surga, kecuali jiwa yang beriman.” (HR. An-Nasa’i no. 2958, Ahmad 2: 32, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Kondisi kedua

Ketika istilah “iman” disebutkan bersamaan dengan istilah “Islam”. Dalam kondisi ini, iman didefinisikan sebagai amalan batin, sedangkan Islam didefinisikan sebagai amalan lahiriah. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis Jibril ‘alaihis salaam yang masyhur. Juga sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَعَدَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Maidah: 9)

Juga sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada jenazah,

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلَامِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيمَانِ

ALLAHUMMA MAN AHYAITAHU MINNA FA AHYIHI ‘ALAL ISLAM WAMAN TAWAFFAITAHU MINNA FA TAWAFFAHU ‘ALAL IMAN (Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dia dalam (keadaan) Islam. Dan orang yang Engkau wafatkan dari kami, maka wafatkanlah mereka dalam keadaan iman).” (HR. Abu Dawud no. 3201, Tirmidzi no. 1024, dan Ibnu Majah no. 1498, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Pengingkaran ulama salaf terhadap orang-orang yang mengeluarkan amal dari definisi iman

Ulama salaf berkata, “Iman itu adalah i’tiqad, ucapan, dan amal perbuatan. Dan amal perbuatan seluruhnya termasuk dalam iman.” Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengutip adanya ijma’ (kesepakatan) tentang hal itu dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in rahimahumullah, dan orang-orang setelah mereka. Dan ulama salaf juga mengingkari orang-orang yang mengeluarkan amal perbuatan sebagai bagian dari iman, dengan pengingkaran yang sangat keras. Termasuk di antara ulama salaf yang mengingkari pendapat tersebut dan menganggapnya sebagai bid’ah adalah: Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mihran, Qatadah, Ayyub As-Sikhtiyani, An-Nakha’i, Az-Zuhri, Yahya bin Abi Katsir, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Umar bin Abdul Aziz, dan selain mereka.

Al-Auza’i rahimahullah berkata, “Orang-orang terdahulu dari kalangan salaf, mereka tidak membedakan antara amal dan iman.” (Maksudnya, amal adalah bagian dari iman)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Amma ba’du. Sesungguhnya iman itu terdiri dari kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat. Siapa saja yang menyempurnakannya, maka sempurnalah iman. Dan siapa saja yang tidak menyempurnakannya, maka iman tidak sempurna.”

Dan inilah yang ditunjukkan oleh Imam Bukhari rahimahullah ketika beliau membuat judul-judul bab dalam “Kitab Iman”, seperti:

بَابٌ: الصَّلاَةُ مِنَ الإِيمَانِ

Bab salat adalah bagian dari iman.

بَابٌ: تَطَوُّعُ قِيَامِ رَمَضَانَ مِنَ الإِيمَانِ

Bab mendirikan qiyam Ramadan (salat tarawih) adalah bagian dari iman.

بَابٌ: الجِهَادُ مِنَ الإِيمَانِ

Bab jihad adalah bagian dari iman.”

بَابٌ: حُبُّ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الإِيمَانِ

Bab mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bagian dari iman.

بَابٌ: الحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ

Bab rasa malu adalah bagian dari iman.

بَابٌ: اتِّبَاعُ الجَنَائِزِ مِنَ الإِيمَانِ

Bab mengiringi jenazah adalah bagian dari iman.

بَابٌ: صَوْمُ رَمَضَانَ احْتِسَابًا مِنَ الإِيمَانِ

Bab puasa Ramadan ikhlas mengharap pahala adalah bagian dari iman.”

Dan bab-bab lainnya.

Demikian pula, At-Tirmidzi rahimahullah membuat judul bab,

بَابُ مَا جَاءَ فِي إِضَافَةِ الفَرَائِضِ إِلَى الإِيمَانِ

Bab apa yang datang tentang menunaikan kewajiban adalah bagian dari iman.

Kemudian beliau membawakan hadis tentang delegasi Abdul Qais, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ، الْإِيمَانِ بِاللَّهِ – ثُمَّ فَسَّرَهَا لَهُمْ – شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمْسَ مَا غَنِمْتُمْ

Saya perintahkan kalian dengan empat perkara. (Pertama), iman kepada Allah. Kemudian beliau menafsirkannya untuk mereka, yaitu “Persaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. (Kedua), mendirikan salat. (Ketiga), menunaikan zakat. (Keempat), menunaikan seperlima dari harta ghanimah kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2611, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa amalan badan (amalan lahiriyah) seperti mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menunaikan seperlima dari harta ghanimah termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari iman.

Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Al-Maqshadul Ma’muul min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, hal. 155-157.

You May Also Like
tanda-kecil-kiamat
Read More

Tanda-Tanda Kecil Kiamat

DEFINISI ASYRAATHUS SAA’AH (TANDA-TANDA KIAMAT) (الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ), dan…
prinsip ubudiyyah
Read More

Mengenal Prinsip-Prinsip Ubudiyyah

Beribadah kepada Allah Ta’ala merupakan hikmah penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan aku tidaklah menciptakan jin…