MUTIARA HADITS KEUTAMAAN ZAKAT FITRAH

hadist-zakat-fitrah

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827)

Pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas:

  1. Zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap muslim yang mempunyai persediaan makanan untuk satu hari bagi dirinya dan tanggungannya. Karena ia merupakan salah satu rukun islam. Di hadist lain Rasulullah SAW menegaskan atas kewajiban menunaikan zakat fitrah ini:
    فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau gandum, kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari umat Islam.” (HR Bukhari dan Muslim)

*1 sha’ setara dengan 4 mud, dan 1 mud berukuran 1 cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan. Dan dikarenakan sha’ ini adalah ukuran takaran bukan ukuran berat/timbangan maka para ulama berbeda dalam menentukan kadar beratnya, jika takaran 1 sha’ ini disetarakan (dikonversi) dalam ukuran berat/timbangan.

Ukuran 1 sha’ menurut 4 madzhab:

  1. Menurut Mazhab Hanafi 3,8 Kg
  2. Menurut Mazhab Maliki 2,75 Kg
  3. Menurut Mazhab Syafi’I 2,75 Kg
  4. Menurut Mazhab Hanbali 2,75 Kg

(Lihat Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz I, halaman 142-143 Al Maktabah As Syamilah)

2. Menurut jumhur ulama (ulama Maliki, Syafi’i, dan Hambali) zakat fitrah wajib berupa bahan pokok yang masih mentah dan tidak boleh dinilai dengan uang. Adapun menurut ulama hanafiyah mereka membolehkan zakat fitrah menggunakan uang senilai bahan makanan pokok yang wajib dibayarkan.

3. Waktu mengeluarkan zakat fitrah wajib sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri

4. Jika mengelurkan zakat fitrah setelah pelaksanaan shalat idul fitri maka dianggap belum menunaikan zakat dan apa yang dikeluarkan dianggap sebagai sedekah pada umumnya.

5. Di antara tujuan utama zakat fitrah adalah:

  • Penyempurna ibadah puasa yang dikerjakan dalam bulan ramadhan dari kekurangan dan ketidaksempurnaan yang dilakukan.
  • Sebagai makanan orang miskin dihari raya umat Islam (Idul Fitri) sehingga semua umat Islam merasakan kegembiraan dan suka cita atas kemenangan mereka, baik kemenangan secara ruhiyah dengan ibadah yang sudah mereka kerjakan dan jasadiyah dengan menunaikan atau menerima zakat (bagi yang berhak) pada waktu tersebut.


Ayat Alquran dan Hadist yang berkaitan dengan tema di atas:

  1. Pahala yang besar bagi yang mengeluarkan zakat
    لَّٰكِنِ ٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ مِنْهُمْ وَٱلْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ ۚ وَٱلْمُقِيمِينَ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ وَٱلْمُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا : “ Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Alquran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar” (QS An Nisa: 162)
  2. Akan mendapatkan ampunan dan syurganya Allah SWT
    لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ : “ Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan hapus kesalahan-kesalahanmu dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai ” (QS Al Maidah: 12)
  3. Zakat banyak melahirkan banyak kebaikan, begitu pula sebaliknya.
    وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا : “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah no. 4019)
  4. Golongan yang berhak menerima zakat
    إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَاءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ : “ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”(QS At Taubah: 60)
  5. Di antara tugas amil adalah mengambil zakat dari para muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) dan mendoakan kebaikan kepada mereka (para muzakki)
    خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
    : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS At Taubah: 103)

والله أعلم بالصواب

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.
Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin

You May Also Like
Makna-Tauhid
Read More

Makna Tauhid

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu…
fungsi-zakat
Read More

Apa Saja Fungsi Zakat?

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan ditutup dan disempurnakan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah bagi yang mampu. Seluruh kaum Muslimin memahami…
sifat-wanita
Read More

8 Sifat Wanita Terbaik

Daripada menuntut terus persamaan gender, lebih baik setiap wanita berusaha memiliki 8 sifat wanita terbaik berikut ini: Menutup Aurat Wanita…