Mukena Tipis Untuk Shalat

mukena-tipis-untuk-shalat


Pertanyaan:

Ustadz, sekarang ada mukena dengan harga mahal-mahal dan motif yang bagus. Tapi ternyata sangat tipis. Bagaimana hukumnya menggunakan mukena  yang tipis sehingga terlihat rambut atau kulitnya ketika shalat?


Jawaban:

Sebagaimana telah ma’fum kita ketahui bahwa diantara syarat sahnya shalat adalah menutup aurat. Dan di negara-negara Asia Tenggara khususnya Indonesia dan Malaysia, para muslimah yang akan shalat menggunakan pakaian khusus penutup aurat yang disebut dengan mukena atau tudung atau juga disebut rukuh.

Pengertian mukena

Saat ditanya apasih mukena/mukena, pasti umum orang akan menjawab “pakaian yang biasa digunakan wanita untuk shalat.” Mukena atau disebut juga rukuh menurut pengertian banyak orang memang diartikan kain selubung (baju kurung) bagi wanita yang digunakan khusus saat shalat. Padahal sebetulnya tidak ada pakaian khusus untuk dipakaian dalam shalat, sebagaimana tidak ada pakaian khusus untuk para lelaki yang dipakai saat shalat. Yang dimaksud kain selubung/baju kurung itu sebenarnya adalah jilbab itu sendiri.

Istilah mukena itu menurut sebagian orang berasal dari bahasa arab yang asalnya muqna’ah/miqna’ah. Dan mukena ini sebetulnya lebih mirip kerudung ketimbang jilbab, hanya saja muqna’ah ini agak lebih panjang kebawah dibandingkan kerudung.

Pengertian mukena yang transparan

Mukena yang transparan adalah mukena yang berbahan kain tipis, tembus cahaya, tembus pandang, dan mengkilap.Seperti contoh mukena sutra kaca, mukena berbahan katun yang tipis, mukena parasut dan lainnya. dan mukena-mukena lain yang apabila dipakai memungkinkan terlihatnya warna kulit, Mukena tersebut memang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, namun bentuk tubuh dan terkadang warna masih bisa terlihat, serta terlihatnya rambut karena menjorok keluar menembus mukena yang berbahan tipis tersebut.

Hukum menggunakan mukena tipis

Shalat tidak sah bila menggunakan pakaian yang ketat dan tipis. Pengertian ketat adalah membentuk bagian-bagian dan lekukan tubuh, sedangkan tipis adalah menampakkan warna kulit pemakainya. Hukum ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, baik ketika shalat di masjid maupun di rumahnya.[1]

Di antara dalil bahwasanya pakaian wanita tidak boleh ketat dan tidak membentuk lekuk tubuh adalah hadits berikut dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata,

كساني رسول الله لى الله عليه وسلم  قبطية كثيفة كانت مما أهدى له دِحْيَةُ الكلبي فكسوتها امرأتي، فقال رسول الله : مالك لا تلبس القبطية؟ فقلت: يا رسول الله! كسوتها امرأتي، فقال: مرها أن تجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظامها

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu waktu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya’” (HR. Ahmad)

Sedangkan dalil larangan pakaian tipis adalah :

دَخَلَتْ حَفْصَةُ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَوَعَلَى حَفْصَةَ خِمَارٌ رَقِيقٌ فَشَقَّتْهُ عَائِشَةُ وَكَسَتْهَا خِمَارًا كَثِيفًا

“Hafshah bintu Abdurrahman masuk ke dalam rumah Aisyah -istri Nabi shallallahu alaihi wasallam- dengan memakai kerudung yang tipis. Kemudian Aisyah merobeknya dan memakaikannya dengan kerudung yang tebal.” (HR. Malik).

Namun bila mukena  tersebut dipakai dengan rangkapan pakaian lain sehingga tidak menampakkan lagi ekuk-lekuk tubuh dan tidak transparan lagi, maka hukumnya boleh digunakan. Wallahu a’lam.

[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (6/136).

You May Also Like