Ketika Fathimah Mengeluh Lelah

fathimah-mengeluh

Hidup tidak akan pernah sepi dari kelelahan. Hanya satu kehidupan yang dijamin bebas dari kelelahan, yakni kehidupan di surga. Fathimah pernah merasakan hidup yang sangat lelah. Ia pun mengadu kepada ayahandanya, Nabi Muhammad saw.

Dalam riwayat Abu Dawud, sebagaimana dikutip al-Hafizh dalam Fathul-Bari, ‘Ali menceritakan:

“Fathimah menarik penggilingan gandum sampai membekas pada tangannya, mengambil air dengan wadah besar sampai membekas pada bagian belakang lehernya, mengurus rumah sampai berdebu bajunya, dan memasak sampai mengotori wajahnya.”

Dalam riwayat Muslim diceritakan bahwa ketika Nabi saw datang ke rumah Fathimah, beliau bersabda:

Sabda beliau: “Tetap saja seperti itu. Aku diberitahu bahwa kamu datang memohon sesuatu. Apa yang kamu butuhkan?” Fathimah menjawab: “Aku dengan kabar bahwa ada beberapa pembantu (tawanan perang) yang datang kepada anda, aku ingin anda memberikan satu pembantu untuk saya guna membantu membuat roti dan adonan, karena itu berat bagiku.” Nabi saw bertanya: “Apakah yang kamu minta itu yang lebih kamu sukai ataukah mau sesuatu yang lebih baik lagi daripada itu?” ‘Ali menjawab: “Aku lalu mengedipkan mata kepada Fathimah dan berkata agar yang lebih baik dari itu yang aku sukai.” Beliau bersabda: “Jika kalian bersabar dalam keadaan kalian berdua sekarang…” lalu beliau mengajarkan tasbih.

Para ulama menjelaskan, bahwa kelelahan itu kuncinya adalah karena ketidaksabaran hati menanggung kelelahan. Jika hati kuat dan bersabar, maka kelelahan yang sangat lelah sekalipun tidak akan membuat hatinya lelah.

Maka dari itulah Nabi saw mengajari Fathimah dan suaminya untuk berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap hendak tidurnya. Itu semua cukup untuk menjadi penguat hati sehingga tidak akan merasakan kelelahan yang menekan hati. Hati yang selalu digantungkan kepada Allah lewat dzikir akan selalu segar karena ia yakin dirinya sudah menyerahkan urusannya kepada Zat yang Maha Agung untuk dijadikan tempat bergantung; Allahus-Shamad. Allah swt pun akan selalu menganugerahinya dengan kekayaan hati.

Nabi saw juga sekaligus mengajari putri dan menantunya untuk selalu berorientasi pada pahala akhirat melalui dzikir tersebut. Sebab Nabi saw menyabdakan dalam riwayat Buhairah: “Itu adalah seratus dalam lisan tetapi seribu dalam mizan.” Orang yang selalu yakin akan mendapatkan yang terbaik di masa depan tidak akan merasa lelah dengan yang dirasakannya di masa sekarang.

Nabi saw pun mengajari kedua orang yang dikasihinya itu untuk selalu melihat orang yang lebih bawah dari mereka dan memilih untuk membantu mereka, sebab bagi orang yang berhati mulia, membantu itu akan mendatangkan kebahagiaan yang sebenarnya.

0 Shares:
You May Also Like