Hukum Suami Tidak Menafkahi Istri Dalam Islam dan Dalilnya

nafkah-untuk-istri

Setiap wanita pasti ingin merasakan indahnya kehidupan berumah tangga. Begitupun dengan laki-laki. Sayangnya, terkadang menjalani pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Adakalanya suami mengalami penurunan ekonomi hingga tidak mampu menafkahi istri dan anak-anaknya. Kondisi seperti inilah yang terkadang memicu perselisihan hingga menyebabkan perceraian.

Lalu sebenarnya bagaiaman hukum suami tidak menafkahi istri dalam islam? Apakah diperobolehkan? Ataukah istri yang harus bekerja sebagai pengganti tulang punggung keluarga? Lebih lengkapnya, simak ulasanya dibawah ini!

Perintah Suami Menafkahi Istri Berdasarkan Al-Quran dan Hadist

Setelah menikah, seorang laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Salah satu kewajiban suami terhadap istri dalam Islam yang harus dipenuhi  yakni menafkahi. Nafkah disini meliputi nafkah lahir dan batin. Kewajiban suami untuk menafkahi istri dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya di Al Quran yang berbunyi:

Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma’ruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ (QS. Al-Baqarah 233)

Serta dalam hadist, Rasulullah Saw bersabda: “Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).’’ (HR. Muslim 2137)

Ayat dan hadist diatas telah menerangkan dengan tegas bahwa seorang suami hukumnya wajib memberikan nafkah kepada istri. Walaupun sang istri telah mempunyai pekerjaan layak dan gaji besar, tetap saja suami harus memberikan jatah nafkah untuk istrinya. Sebab gaji istri adalah hak istri sendiri. Tidak patut seorang suami mengatur dan meminta gaji istri. Kecuali istrinya memberikannya dengan ikhlas.

Hukum Suami Tidak Menafkahi Istri

Allah SWT telah memerintahkan suami untuk menafkahi istrinya. Apabila suami tidak melakukan perbuatannya tersebut, maka sudah pasti hukumnya dosa. Terlebih lagi jika suami tidak mau bekerja dengan alasan malas. Ia tidak berusaha dan mengandalkan kekayaan si istri, sungguh tindakan ini adalah tindakan tercela. Bagaimana pun juga istri telah melayani suaminya (seperti mencuci pakaian, memasak, dan sebagainya), lalu bagaimana bisa suami tersebut menikmati layanan itu tanpa memberikan nafkah?

Allah Ta’ala berfirman:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisa: 34)

Sebelum menikah, tanggung jawab wanita ada pada orang tuanya. Namun setelah ia menikah, seluruh tanggung jawabnya beralih ke suami. Seorang suami adalah pemimpin bagi istrinya. Maka itu, sudah selayaknya ia melindungi istrinya dengan cara menyayangi, menjaga dan termasuk menafkahi. Memberi uang belanja (uang makan), membelikan pakaian serta kebutuhan pokok lainnya sesuai kesanggupan. Apabila suami tidak memenuhi tanggungan tersebut, maka ia pun berdosa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Daud-Ibnu Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Memenuhi Kebutuhan Keluarga Dengan Harta Istri, Bolehkah?

Ketika suami berada dalam kondisi sulit, misalnya ia jatuh bangkrut atau di PHK dari kantor-tempat berkerjanya, bolehkah seorang istri membantu keuangan keluarga? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Kita harus mengetahui bahwa dalam ajaran islam tugas suami adalah bekerja. Sedangkan istri mengurus rumah dan merawat anak-anak.

Namun apabila keadaannya benar-benar mendesak, boleh saja wanita bekerja untuk membantu ekonomi rumah tangga (dengan syarat ia mampu menjaga kehormatannya dan tidak boleh mengabaikan keluarganya). Seorang wanita boleh menggunakan hartanya untuk membantu suami, namun hal ini bukan berarti menghapus tugas suami sebagai pemberi nafkah.

Para ulama berpendapat bahwa harta (penghasilan) istri adalah hak-nya istri. Suami tidak boleh menggunakannya tanpa izin dan keridhaan dari istri. Apabila istri memang mengizinkan hartanya untuk digunakan membatu pemenuhan kebutuhan rumah tangga, maka pemberian tersebut dianggap sebagai sedekah dan istri memperoleh pahala.

”Khusus masalah gaji istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya” (Fatwa Islam- 126316)

Tapi perlu diingat, walaupun istri merelakan uangnya, kewajiban nafkah tetap berada di pundak suami. Suami harus berusaha kuat untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dengan cara apapun (selama itu halal dan tidak membahayakan) maka tak ada alasan untuk tidak bekerja. Menelantarkan keluarga hukumnya berdosa

0 Shares:
You May Also Like
amalan-terbaik
Read More

Amalan yang Terbaik adalah Amalan yang Bisa Dirutinkan

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ…
puasa-senin-kamis
Read More

Merutinkan Puasa Senin Kamis

Puasa adalah amalan yang sangat utama. Puasa pun ada yang diwajibkan dan ada yang disunnahkan. Setelah kita menunaikan…
kadar-nafkah
Read More

Kadar Nafkah Suami Untuk Istri

Tidak ada ayat Al-Quran ataupun Al-hadist yang menerangkan jumlah atau kadar pemberian nafkah suami kepada istrinya. Allah SWT…
kewajiban-suami
Read More

6 Kewajiban Suami terhadap Istri

Setiap insan yang telah berkeluarga tentunya mendambakan keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Namun, dalam mencapai semua keinginan…