Harus Diketahui, Inilah Sejumlah Pengorbanan Ayah

pengorbanan-ayah

Menjadi seorang ayah yang baik dalam keluarga memang tak mudah. Di satu sisi, sebagai kepala keluarga, seorang ayah perlu menunjukkan sikap berwibawa dan tegas. Namun di sisi lain, ayah juga tidak boleh kehilangan sifat hangatnya, terlebih ketika berhadapan dengan sang anak. 

Bentuk Pengorbanan Ayah dalam Keluarga

Pengorbanan seorang ayah dapat dilihat ketika ia mengesampingkan segala hal untuk sesuatu yang jauh lebih baik dan bernilai bagi keluarganya. Ya, tidak ada yang lebih berharga dari menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.

Berikut ini beberapa contoh pengorbanan ayah untuk keluarganya:

  • Gaya hidup

Bukan hal yang mengagetkan tentunya jika setelah menikah, kehidupan seorang pria akan berubah drastis. Seorang ayah mungkin tidak akan bisa lagi tidur larut malam karena bepergian dengan teman-temannya.

Perubahan gaya hidup ini terasa semakin cepat saat seorang ayah sudah memiliki anak. Ayah harus mulai merawat dirinya sendiri dengan lebih baik sehingga ia bisa menyaksikan pertumbuhan buah hatinya dari waktu ke waktu, seperti menghindari hal-hal buruk yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka.

  • Dianggap sebagai seorang yang lebih jahat

Ini mungkin menjadi bentuk pengorbanan terbesar dari seorang ayah karena ia harus melakukan peran yang terkesan lebih jahat di mata sang Anak. Seorang ayah harus bisa bersikap tegas dan tidak mudah menuruti keinginan anak. Hal inilah yang sering kali membuat seorang ayah dianggap keras walaupun sebenarnya hal tersebut dilakukan sebagai tanda cintanya pada sang Anak.

  • Waktu

Waktu mungkin merupakan pengorbanan terpenting selanjutnya yang diberikan oleh seorang ayah. Seorang ayah dituntut untuk bisa membagi waktunya demi kepentingan keluarga, mulai dari menghadiri undangan dari sekolah si Kecil atau sekadar mengantarkan sang Istri pergi berbelanja.

  • Masalah finansial

Mengejar kemapanan finansial akan terasa lebih mudah ketika seorang pria masih muda dan berstatus lajang. Meski begitu, ketika berkeluarga, hal ini bisa menjadi lebih rumit. Kondisi ini tentu saja karena ayah harus menjadi tulang punggung keluarganya dan memikirkan sejumlah pengeluaran, mulai dari kebutuhan rumah tangga, uang pendidikan anak, hingga pengeluaran tidak terduga yang mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu.

  • Waktu tidur

Tak hanya ibu, seorang ayah mungkin juga perlu bangun tengah malam hanya untuk menggantikan popok si Kecil atau membantu pekerjaan rumah sang Anak. Hal ini tentu saja mengorbankan waktu tidur ayah. Bahkan, beberapa ayah harus siap untuk tidur dengan waktu yang sebentar di beberapa tahun pertama masa membesarkan anak.

  • Melupakan hobi kerennya

Beberapa pria memiliki hobi tertentu yang menurutnya keren. Namun setelah berkeluarga, seorang ayah harus siap meninggalkan hobi ini dan mengalokasikan semua dana serta pemikirannya tersebut, seperti membayar premi asuransi, memperbaiki talang air, atau membayar pendidikan anak.

  • Kehilangan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan impian

Jika saat lajang seorang pria bisa dengan leluasa mengambil pekerjaan apapun, entah pekerjaan yang mengharuskan untuk begadang atau pergi ke luar kota sekalipun. Namun ketika sudah berkeluarga, pekerjaan bukan semata hanya memenuhi impian.

Biasanya bagi kebanyakan pria, tinggal bersama dengan keluarga di satu tempat jauh lebih penting daripada harus bekerja jauh dan berpisah dalam waktu lama. 

  • Mendahulukan kepentingan anggota keluarga lain terlebih dulu

Saat lajang, seorang pria mungkin bisa melakukan hal apapun yang disukainya. Namun ketika usianya semakin bertambah, ayah mungkin harus mulai menomorduakan kepentingannya sendiri demi kepetingan anggota keluarga lain.

  • Kehilangan kontrol di rumah

Ayah mungkin memang kepala rumah tangga. Namun, jangan berharap untuk bisa mengendalikan banyak hal di sana. Seorang istri mungkin bisa lebih mengontrol di rumah, begitu juga dengan anak-anak. Mereka memiliki kebebasan yang jauh lebih besar dari ayah.

Si Kecil bisa kapan saja merebut remote tv dan mengganti salurannya saat ayah sedang menonton pertandingan. Atau, bersabarlah ketika ayah tidak bisa meletakkan perangkat stereo musik di ruang tamu karena istri menginginkan ruangan tersebut dijadikan perpustakaan. 

  • Melepaskan

Pengorbanan terbesar selanjutnya mungkin adalah melepaskan ketika anak-anak mulai berkembang dengan sendirinya. Saat anak-anak masih kecil, ayah mungkin mengajarkannya untuk mengendarai sepeda. Namun ketika usianya semakin dewasa, ayah harus bisa melepaskannya ketika ia mulai berkendara sendiri menggunakan mobil pilihannya.

Menyaksikan anak-anak yang bertumbuh dewasa dan meninggalkan rumah adalah pengalaman pahit bagi para ayah. Namun, ketahuilah bahwa ini merupakan pengorbanan yang dilakukannya dengan senang hati.

Menjadi seorang ayah memang tidak mudah. Layaknya seorang ibu, tidak ada pelajaran yang mengajarkan cara untuk menjadi ayah terbaik. Semua pengorbanan ayah tersebut dilakukan secara alamiah dan tentunya dengan perasaan ikhlas. Jadi, sudahkah mengungkapkan rasa terima kasih pada ayah hari ini?

0 Shares:
You May Also Like