Hadits Arbain: Ihsan dan Tanda Kiamat

ihsan dan tanda kiamat

Kali ini melanjutkan ihsan dan tanda dari hadits Jibril, hadits Al-Arbain An-Nawawiyah kedua. Inilah pembahasan terakhir dari hadits kedua tersebut.

Lanjutan dari hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu ,

Dia berkata: “Dia mengatakan kepada saya tentang iman, katanya. Dia berkata, “Yang penanya tidak lebih tahu dari penanya.” Dia berkata, jadi ceritakan tentang emiratnya. Dia berkata, “Bahwa budak perempuan itu akan melahirkan majikannya, dan bahwa kamu akan melihat yang bertelanjang kaki, yang telanjang, para gembala bertengkar memperebutkan anak-anak mereka.” Kemudian dia pergi dan aku terdiam beberapa saat, lalu berkata, “Wahai Umar, tahukah kamu siapa penanya itu?” , aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Dia berkata, “Jibril-lah yang datang untuk mengajarimu agamamu.” Diriwayatkan oleh mereka

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para-Nya, kepada hari Kiamat dan takdir yang baik maupun yang.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.”

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-akan melihat-Nya, jika tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan saya tentang hari ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Selanjutnya orang itu berkata lagi,“Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkannya; jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun bangunan.”

Kemudian orang tadi pergi, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan tentang agama-agama.” (HR.Muslim, no.8)

Pelajaran Keempat dari Hadits #02

1- Ihsan itu berarti berbuat baik yaitu berbuat baik dalam menunaikan kewajiban pada Sang Khaliq, di mana ibadah dilakukan dengan ikhlas karena-Nya dan ittiba’ (mengikuti tuntunan) Rasul-Nya. Siapa saja yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , dialah yang telah dilakukan ihsan . Adapun melakukan kepada ihsan kepada perbuatan adalah melakukan baik sesama melalui harta, keduducan dan lainnya (seperti dijelaskan dalam hadits ke-17 dari Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah).

2- “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-akan engkau melihat-Nya” maksudnya ibadah tersebut dibangun di atas keikhlasan dan ittiba’ (mengikuti tuntunan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan melihat-Nya maksudnya adalah ibadah itu dilakukan atas dasar cinta kepada Allah. Sebab inilah cinta yang mendorong seseorang untuk melakukan ibadah.

3- “Jika engkau tidak melihat-Nya, sungguh Allah melihatmu ”, maksudnya beribadahlah kepada Allah atas dasar takut kepada-Nya. Jika kita menyelisihi hal itu, maka Allah melihat kita yaitu Allah akan memberikan siksaan.

4- Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, derajat ihsan ada dua: (a) derajat thalab, (b) derajat harb .

Derajat thalab adalah kita beribadah kepada Allah seolah-akan melihat-Nya. Derajat harb adalah kita beribadah kepada Allah dan yakin Allah melihat kita, maka takutlah akan siksa-Nya. Derajat thalab lebih tinggi dibandingkan dengan derajat harb .

5- Dalam ihsan ada kadar wajib yang harus dipenuhi yaitu seorang hamba harus beribadah dengan baik pada Allah dengan ikhlas dan ittiba’. Ada pula kadar mustahab (sunnah) yaitu beribadah kepada Allah pada maqam muraqabah atau maqam musyahadah.

Maqam muraqabah adalah keyakinan bahwa Allah melihat kita. Inilah maqamnya kebanyakan manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat,

Dan kamu tidak ada hubungannya dengan itu, dan kamu tidak membaca darinya dari Al-Qur’an, dan kamu tidak melakukan suatu perbuatan kecuali bahwa kami melawan kamu.

Kamu tidak dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya .” (QS. Yunus: 61)

Juga dalam hadits disebutkan sebagai berikut,

Jika Anda berdiri dalam doa Anda, berdoa perpisahan, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun permintaan maaf, dan mengumpulkan keputusasaan.

Jika engkau shalat, lakukanlah seperti shalat orang yang akan berbisah; Berbicaralah dengan bertutur kata yang kelak akan meminta maaf di hari esok, dan janganlah berharap terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4171 dan Ahmad, 5:412; dari Abu Ayyub. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Berdoalah doa perpisahan, karena jika Anda tidak melihat-Nya, maka Dia melihat Anda.

“Shalatlah seperti shalat orang yang akan berpamitan, maka sesungguhnya engkau, jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Dan tak perlu banyak berharap pada sesuatu yang ada di tangan orang lain, pasti akan menjadi kaya; dan berhati-hati dari yang nanti akan dimintai keterangan.” (HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhud Al-Kabir, 2:210. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih karena banyak penguatnya. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1914.)

Maqam musyahadah berarti kita beribadah kepada Allah Maqam ini lebih tinggi dibandingkan maqam muraqabah.

6- As-saa’ah adalah waktu saat manusia berdiri keluar dari kuburnya menghadap Rabbul ‘alamin , yaitu hari berbangkit. Disebut sebagai-saa’ah karena pantai itu bala’ (musibah) yang besar seperti disebutkan dalam ayat,

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, karena gempa bumi pada saat itu adalah suatu hal yang besar.

Hai manusia , bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) .” (QS. Al-Hajj: 1)

7- Ilmu tentang hari, kapan hari hari ini hanyalah menjadi ilmu Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditanyai saja menjawab bahwa ia tidak lebih tahu dari yang bertanya (Jibril).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah sampai-sampai menegaskan, “Wajib bagi kita mendustakan setiap orang yang menyatakan bahwa batasan umur dunia hanya dan hanya akan datang. Siapa yang berani menyatakan seperti itu atau membenarkannya, maka ia kafir.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah , hlm. 65).

Dalam ayat disebutkan,

Orang-orang bertanya kepadamu tentang Kiamat, katakanlah, “Hanya pengetahuan tentang itu di sisi Allah, dan Dia tidak mengenalmu.” Mungkin Hari Kiamat sudah dekat.

“ Manusia bertanya tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al-Ahzab:63)

8- Kiamat akan datang dengan melewati tanda-tanda terlebih dahulu. Allah Ta’ala berfirman ,

Jadi apakah mereka hanya menunggu saat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sudah datang, jadi bagaimana bagi mereka ketika itu datang kepada Anda?

Maka yang mereka tunggu-tunggu hari ini (yaitu) mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka jika Kiamat sudah datang? (QS.Muhammad: 18)

9- Para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah membagi tanda-tanda datangnya hari menjadi tiga: (a) tanda yang sudah berlalu dan berakhir, (b) tanda yang akan terus berulang (tanda yang akan datang ), terus hari berikutnya (tanda kubra ).

10- Tanda yang disebutkan dalam hadits:

Pertama: Seorang melahirkan melahirkan majikannya. Hal ini adalah: (1) peningkatan banyak ada makna di akhir zaman sehingga ada anak perempuan yang dilahirkan dari seorang budak dan anak perempuan itu merdeka sedangkan budak wanita sebagai ibunya budte; (2) semakin banyak anak yang durhaka di akhir zaman karena ada anak perempuan yang bertingkah laku sebagai majikan dan diperlakukan sebagai budaknya.

Kedua: Orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun bangunan. Artinya banyak orang miskin menjadi kaya dan berlomba-lomba meninggikan dan memperbagus bangunan.

11- Malaikat bisa berjalan dan bisa berubah bentuk menyerupai manusia.

12- Manusia asalnya tidak bisa melihat malaikat.

13- Seorang alim boleh mengajukan pertanyaan pada murid-muridnya tentang berbagai hal yang belum diketahui.

14- Yang bertanya suatu ilmu bisa menjadi orang yang mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang mendengar jawabannya.

15- Yang dalam hadits ini adalah masalah diin (masalah agama). Diin dalam hal ini ada tiga tingkatan: (a) Islam memiliki lima rukun, (b) Iman memiliki enam rukun, (c) Ihsan memiliki satu rukun yaitu beribadah kepada Allah seolah-akan melihat-Nya; jika tidak melihatnya, yakinlah Allah itu melihat kita.

16- Seorang muslim hendaklah mempelajari agamanya tidak sekedar mengaku sebagai seorang muslim saja kemudian tidak mengetahui dalam ajaran Islam itu terdapat apa saja. Sehingga penting mempelajari Islam, Iman dan Ihsan. Demikian nasihat dari Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizahullah.

Semoga bermanfaat hadits Jibril dan menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

Referensi:

  1. Al-Minhah Ar-Rabbaniyyah fii Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul ‘Ashimah.
  2. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam fii Syarh Khamsiina Haditsan min Jawami’ Al-Kalim. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  3. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah . Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  4. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah . Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.
You May Also Like
definisi-kufur-dan-jenisnya
Read More

Definisi Kufur dan Jenisnya

Definisi Kufur Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya,…
tanda-kecil-kiamat
Read More

Tanda-Tanda Kecil Kiamat

DEFINISI ASYRAATHUS SAA’AH (TANDA-TANDA KIAMAT) (الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ), dan…